Watermarking dalam konteks AI adalah teknik menyisipkan penanda atau sinyal tersembunyi ke dalam konten yang dihasilkan oleh sistem AI generatif—baik berupa teks, gambar, audio, maupun video—dengan tujuan membantu mengidentifikasi secara teknis bahwa konten tersebut dibuat oleh mesin, bukan oleh manusia, bahkan setelah konten tersebut disebarluaskan.
Berbeda dengan watermark visual tradisional yang terlihat jelas oleh mata (seperti logo transparan pada foto), watermark AI modern umumnya dirancang agar tidak terlihat atau terdengar secara kasat mata oleh manusia, namun tetap dapat dideteksi menggunakan alat atau algoritma khusus. Pada gambar, misalnya, watermark dapat disisipkan dengan sedikit memodifikasi pola piksel tertentu yang tidak terlihat mencolok namun dapat dideteksi secara komputasional. Pada teks, teknik watermarking dapat memanipulasi pola statistik pemilihan kata secara halus yang tidak memengaruhi keterbacaan namun dapat dianalisis untuk mendeteksi asal-usul AI.
Kebutuhan akan watermarking AI meningkat pesat seiring maraknya kekhawatiran terhadap penyalahgunaan konten sintetis, seperti deepfake untuk disinformasi, konten akademik yang dihasilkan AI tanpa disclosure, atau gambar dan video palsu yang digunakan untuk penipuan. Watermarking menjadi salah satu alat teknis untuk membantu menjaga kepercayaan publik terhadap keaslian informasi di tengah ledakan konten yang dihasilkan AI.
Regulasi di berbagai negara mulai mewajibkan penggunaan watermarking atau pelabelan serupa untuk konten AI tertentu—misalnya, kewajiban pelabelan konten deepfake dalam kerangka transparansi EU AI Act. Sejumlah perusahaan teknologi besar juga telah mengembangkan standar teknis bersama, seperti C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity), untuk melacak asal-usul dan riwayat modifikasi konten digital secara lebih sistematis.
Meski demikian, watermarking AI bukanlah solusi sempurna—teknik ini dapat dihilangkan atau dilemahkan melalui kompresi, pengeditan ulang, atau konversi format, dan tidak semua penyedia AI generatif menerapkan watermarking secara konsisten, sehingga tantangan mendeteksi konten sintetis secara andal tetap menjadi area riset aktif hingga saat ini.
