AI Agent, atau agen kecerdasan buatan, adalah sistem AI yang dirancang tidak sekadar untuk merespons pertanyaan, tetapi untuk bertindak secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu. Berbeda dengan model bahasa konvensional yang hanya menghasilkan teks berdasarkan input, AI Agent memiliki kemampuan untuk merencanakan, mengeksekusi, dan merefleksikan tindakannya sendiri.
Seorang AI Agent bekerja dengan cara menerima persepsi dari lingkungannya — baik itu berupa input teks, data dari API, atau informasi dari sensor — kemudian memproses informasi tersebut, menyusun rencana, dan menjalankan serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sistem ini dilengkapi dengan mekanisme memori yang memungkinkannya mengingat percakapan atau langkah-langkah sebelumnya, serta kemampuan refleksi untuk mengevaluasi apakah tindakannya sudah efektif atau perlu disesuaikan.
Perbedaan mendasar antara AI Agent dan model AI generatif biasa terletak pada tingkat otonominya. Model generatif seperti ChatGPT hanya merespons prompt yang diberikan; ia tidak memiliki inisiatif untuk bertindak di luar konteks percakapan. Sebaliknya, AI Agent dapat menginisiasi tindakan sendiri, menggunakan alat eksternal (seperti browser, kalkulator, atau API pihak ketiga), dan bahkan berkolaborasi dengan agen lain untuk menyelesaikan tugas yang kompleks.
Contoh nyata AI Agent antara lain asisten digital canggih yang dapat memesan tiket pesawat, menjadwalkan rapat, dan mengirim email secara otomatis tanpa intervensi manusia, atau sistem robotik yang dapat menavigasi lingkungan fisik secara mandiri. Dalam dunia bisnis, AI Agent mulai digunakan untuk mengotomatiskan alur kerja yang rumit, seperti analisis data keuangan, manajemen inventaris, dan layanan pelanggan yang dipersonalisasi. Dengan kata lain, AI Agent adalah evolusi dari AI yang "pasif" menjadi AI yang "aktif" — dari sekadar menjawab menjadi bertindak.
