Artificial General Intelligence (AGI) adalah tingkat kecerdasan buatan di mana mesin memiliki kemampuan kognitif yang setara dengan manusia—mampu memahami, belajar, dan menerapkan pengetahuan di berbagai domain yang luas, tidak hanya tugas spesifik. AGI sering disebut sebagai "strong AI" atau "human-level AI".
Berbeda dengan AI sempit (narrow AI) yang hanya mampu melakukan satu tugas spesifik—seperti bermain catur atau menerjemahkan bahasa—AGI dapat melakukan tugas apa pun yang dapat dilakukan manusia, dengan fleksibilitas dan adaptabilitas yang sama. AGI dapat beralih dari memecahkan masalah matematika ke menulis puisi ke memahami emosi, tanpa perlu pelatihan ulang.
AGI masih merupakan tujuan jangka panjang dan belum tercapai. Para peneliti memperdebatkan kapan AGI akan terwujud—perkiraan berkisar dari beberapa dekade hingga lebih dari satu abad, atau bahkan mungkin tidak pernah. Tantangan untuk mencapai AGI sangat besar, termasuk memahami kesadaran, emosi, dan penalaran abstrak.
Implikasi AGI sangat mendalam. AGI dapat merevolusi hampir setiap aspek kehidupan manusia—dari ilmu pengetahuan dan kedokteran hingga seni dan pemerintahan. Namun, AGI juga membawa risiko eksistensial jika tidak dikembangkan dengan hati-hati, termasuk potensi kehilangan kendali manusia atas mesin yang lebih cerdas.
Perdebatan tentang AGI melibatkan pertanyaan filosofis: Apa itu kecerdasan? Apakah kecerdasan memerlukan kesadaran? Dapatkah mesin benar-benar "memahami" atau hanya mensimulasikan pemahaman? Pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab dan membuat AGI tidak hanya menjadi tantangan teknis tetapi juga filosofis.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa kita mungkin tidak perlu mencapai AGI; AI sempit yang sangat canggih sudah cukup untuk memecahkan sebagian besar masalah manusia. Namun, yang lain melihat AGI sebagai tujuan akhir yang tak terelakkan dari penelitian AI.
